22 November 2017, bagi kami menjadi tanggal yang begitu berbeda dari biasanya. Selain harus cepat-cepat menyelesaikan tugas perkuliahan, di tanggal ini juga kami harus kunjungan media ke salah satu stasiun televisi. Selama ini jarang sekali kami keluar dari rana kampus, hidup hanya berputar kelas, kos-kosan dan warung bu ijah.
Saat-saat ke stasiun televisi tersebut, sepanjang perjalanan kami nikmati betul. Membayangkan berada disana saja sudah sangat luar biasa, apalagi bisa bertegur sapa dengan salah satu news anchor cantik, hmm..
Tegang
Ketegangan datang saat di tengah perjalanan, tiba-tiba polisi bersiliweran di pinggir jalan protokol soetta buah batu, kami khawatir, takutnya diantara kami tidak memiliki identitas, lalu diturunkan dari angkot, lalu ditinggalsama supir angkot, lalu disorakin sama tukang angkot, lalu diceburin ke sungai :D
Dengan segala upaya kami berusaha menikmati perjalanan ini. Beberapa kali terjadi negosiasi meski tidak secara jelas apa yang mereka bicarakan. Eh ternyata.. polisi tersenyum dan melambaikan tangan dibalik kaca mobil yang kami tumpangi. Huhuh (sambil mengusap keringat), tegang juga.
Sampai
Sesampainya di gedung stasiun televisi TVRI tepatnya di jalan cibaduyut no 269, sambil melepas nafas haaa.. Tiba-tiba..
Sontak saja kami mengeluarkan senjata andalan kami, untuk membela diri, dari indahnya spot foto TVRI, ciaa.. hmm yea sebuah kamera
12.30
Kulihat waktu di jam tanganku menunjukkan waktu pukul 12.10, mobil abu-abu bernuansa maron berhenti tepat didepanku, kami yang sedang duduk-duduk santai diselasar masjid karena tegangnya di angkot dan daripembelaan diri tadi menghela nafas sebentar sambil menikmati air cuci muka khusus dari TVRI ini, rasanya.. jan ditanya
Dug, dug, dug.. mobil yang tadi berhenti terbuka pintunya, kreyott… kreyot.. kreyott..
Dug, dug, dug dug.. masih saja berdetak rasa deg-degan ini, dengan muka yang penasaran kami mengira dengan melihat postur tubuh dan tinggi badannya yang keluar ialah pak mantan presiden susilo bambang yudoyono, eh tapi ya ya ya.. ternyata dosenku yang berbahagia.
Tapi, kali ini beda, beliau terlihat lebih sumringan daripada sebelumnya, saat bertemu dikelas perkuliahan, mungkin ini karena efek spot TVRI kali ya. Terlebih sekarang mau menghampiri kami dan duduk bareng dengan kami, suatu hal yang tak biasa dilakukan seorang dosen zaman now. Sesekali beliau membuat cair suasana, dengan senyumnya yang khas mungkinkah ini salah satu dosen yang harus kumanuti?
Waktu telah menunjukkan pukul 12:30, itu menunjukkan bahwa kami harus segera berkumpul di gedung pertemuan TVRI, matahari menunjukkan kegagahannya, kami segera memasuki ruangan. Sepanjang jalan menujuruang pertemuan itu kami melihat bunga taman bermekaran, terlihat walaupun agak sepi dari area diluar gedung tadi, ternyata hiruk pikuk kehidupan terjadi di dalam ruangan.
Kulihat terjadi pergulatan dasyat 3 elemen di dalam ruang-ruang para mujahid penyiaran itu, tiga elemen itu yaitu: elemen pertama ialah waktu, karena mereka dikejar deadline, elemen kedua ialah diri, karenanya ia harusmemompa segala macam potensi untuk menyelesaikan pekerjaan itu, yang ketiga ialah elemen data, tanpa data yang valid mungkin seperti cangkang kosong tanpa kepompong. Begitulah kulihat pergelutan 3 elemen ituterjadi.
Sampailah kita diruang pertemuan, tanpa basa-basi kami langsung duduk. Jarang-jarang anak rantau seperti kami duduk di kursi seempuk ini, oh iya ruangan ini persis seperti film-film Hollywood dimana para agen CIA melalkukan rapat diskusi-diskusinya.
Kami langsung disambut Pak Agus Prasetyo yang sekaligus membuka dan membahas diskusi-diskusi, dan menemukan beberapa kesimpulan bahwa:
1. TVRI itu merupakan media yang paling netral, tidak berpihak kepada siapapun tapi berpihak demi kemaslahatan rakyat.
2. Kenapa TVRI terkesan sebagai TV jadul? Karena TVRI sesungguhnya kekurangan SDM muda.
3. Dan kenapa programnya tidak terlalu berkembang? Karena terbatasnya dana, dan juga bukan TV komersil
4. TVRI merupakan tv control social terhadap Indonesia dan
5. TVRI juga merupakan guru dari stasiun-stasiun televise lain di Indonesia.
Itulah sekelumit kisah kunjungan media ke stasiun televisi nasional TVRI, mungkin kurang dan lebihnya mohon maaf, sampai bertemu di chapter selanjutnya.
Wassalammualaikum wr wb
